salju

SejarahLigina.blospot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

SejarahLigina.blogspot.com

Senin, 23 Februari 2015

Sejarah Berdirinya Persebaya


SEJARAH BERDIRINYA PERSEBAYA
Image result for PERSEBAYA 
    Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni1997. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pada saat itu di  juga ada Surabaya klub bernama Sorabaiasche Voebal Bond (SVB), bonden(klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.
     Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.


    Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1950, 1951 dan 1952.

     Tahun 1960, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan tujuh kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1987, dan 1990.
     Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi bertajuk Liga Indonesia sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1997. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2005 Green Force kembali merebut gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.



Sabtu, 21 Februari 2015

PERMUSUHAN TIADA AKHIR VIKING & THE JAK



PERMUSUHAN TIADA AKHIRVIKING & THE JAK

Image result for PERMUSUHAN THE JAK VIKING

Perdebatan Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing. 
Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduany...a bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru. 
Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang. 


Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania. Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah. Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya? 

Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi. Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka. Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club. 

Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia, memiliki kreatifitas tinggi, terbukti dengan julukan “Bandung kota mode, musik, dan seniman” (bahkan the jak pun belanja ke Bandung), dengan the jak yang memiliki title kota ibukota. Entah kapan ini berakhir… 

Menarik sekali membahas pertemuan Persib dan Persija karena dua klub ini merupakan dua klub legendaris dan memiliki sejarah besar sejak zaman Perserikatan dulu. Aroma klasik dan dendam selalu mewarnai pertandingan ini. Mungkin tensi pertandingan ini setara dengan Inter vs Juventus di Serie-A atau Barcelona vs Real Madrid di La Liga. 

Berbicara tentang klub, tentu tak lepas dari suporter. Ini yang cukup menarik. The Jak dan Viking sejak dulu selalu berseteru di dalam dan luar lapangan. Teror kepada pemain Persib dan Persija selalu terjadi setiap kedua tim itu bermain di Bandung ataupun Jakarta. Bentrokan antar kedua kubu acapkali terjadi. Bagaimana awal mula perseturuan kedua kubu itu berasal?? Ada beragam versi. Baca aja komen-komen di bawah. Saya juga bingung jadinya. Viking menyalahkan The Jak, The Jak menyalahkan Viking. 

Hmmm.. apakah hanya Viking musuh The Jak? Setelah saya “berjalan-jalan” di dunia maya ternyata bukan hanya Viking yang membenci The Jak. Bonek, La Viola, Persipura mania, kabomania, bahkan North Jak yang sekota dengan The Jak pun sangat membenci suporter oranye itu.. Mungkin ini salah satu alas an viking membenci the jak?? Bisa dibilang musuh the jak sahabat viking, sahabta The Jak berarti musuhnya Viking. 
Ditambah lagi ada film Romeo-Juliet yang kontroversial justru memperparah permusuhan The Jak dan Viking. Patutkah Kebencian Ini terus ada??? Rasanya memang susah menghapuskan luka dan dendam yang sudah ada. Memang permusuhan itu harus tetap ada tapi hanya sebatas di lapangan. Lihatlah Barcelonista dan Madridista, permusuhan mereka hanya di lapangan atau pun sebatas di website, hanya saling ejek. Tak pernah ada bentrok fisik, suporter bisa datang ke Madrid atau Barcelona. Tak pernah ada bentrokan. Atau lihat antara Milanisti danInteristi. Saat Milan tak lolos Liga Champions, Interisti sangat puas dan mengejek AC Milan. Saat musim iniMilan tanpa gelar, Interisti membentangkan spanduk Milan Merda (merda= ejekan bahasa Italia) dan juga Zero Tituli (nol gelar) untuk mengejek Milan bukan mengejek Milanisti. Tapi mereka tetap bisa hidup rukun dalam satu kota. Bahkan saat derby berlangsung jarang sekali sada bentrokan. Kedua suporter bisa menonton dengan tenang. 

Mengapa begitu? Karena di luar negeri berbeda dengan di sini. Di saana yang dibenci klubnya, kalo di sini yang dibenci suporternya. Interisti membenci AC Milan dan Juventus tapi tidak membenci Milanisti dan Juventini. Bisa diliat di FB pun ada grup anti Juventus dan antiMilan bukan anti Milanisti ataupun anti juventini. 

Kalo di kita yang dibenci lebih pada suporternya bukan pada klubya. Ada grup antiViking, anti Jakmania. Bukan anti Persija atau anti Persib. 

saya : ya...siapa yang tidak tahu perseteruan antara viking (suporter persib) vs jakmania (suporter persija)?. Tentang awal mula dan sejarahnya, setiap kubu memiliki versi cerita dan statment masing-masing, dimana rata-rata memiliki perbedaan. Statment di atas adalah salah satu statment yang sedikit kontroversial, tapi bagaimana cara kita memandangnya mudah-mudahan kearah positif. tak sedikit orang atau kubu tertentu terprovokasi oleh statment tertentu yang mengakibatkan ke arah perpecahan atau kerusuhan yang mengakibatkan kerugian, bahkan kerugian dipihak-pihak yang tidak terlibat. Mari kita berfikir pintar..

Jumat, 20 Februari 2015

SEJARAH MEMALUKAN INDONESIA SEPAKBOLA GAJAH INDONESIA 1998

SEJARAH MEMALUKAN INDONESIA
SEPAKBOLA GAJAH INDONESIA 1998
Image result for sepakbola gajah indonesia thailand

Saking kesalnya, permainan negatif pun diperagakan oleh Timnas Indonesia, diawali dengan lemparan ke dalam oleh Uston Nawawi kepada Aji Santoso lalu bola diberikan kepada Mursyid Effendy kemudian di passing kepada miro baldo bento terus diberikan kepada Kuncoro setelah itu bola pun dikembalikan lagi ke kaki Mursyid Effendy yang tengah berdiri bebas dekat gawang Indonesia tanpa ada pemain thailand yang mengawal.
Dengan satu sentuhan saja saat itu pun mursyid effendy melakukan tendangan sedikit melambung ke kegawang sendiri, bahkan kiper yang menjaga gawang saat itu hanya berdiam mempersilahkan bola masuk ke gawang nya, Mursyid dan pemain Indonesia lainnya pun langsung melakukan sebuah selebrasi kecil-kecilan berupa tepuk tangan diiringi dengan senyuman manis. Sungguh sebuah gol yang indah yang rela mengorbankan harga diri bangsa Indonesia Gol tersebut membuat skor 3-2 untuk keunggulan Thailand dan bertahan hingga pertandingan usai, kemenangan pun akhirnya dimiliki oleh Thailand, tampak terlihat senyum kebahagiaan para pemain Indonesia di layar kaca yang kala itu disiarkan langsung oleh stasiun televisi swasta, antv. Senyuman yang melegakan bagi mereka namun memalukan bagi rakyat indonesia. dengan kekalahan itu akhirnya indonesia berhasil menyingkirkan rasa takutnya pada timnas Vietnam kala itu, sebaliknya thailand harus menyiapkan “kuburannya” karena harus berhadapan dengan timnas Vietnam.
Seusai pertandingan menggelikan tersebut, ketua umum PSSI kala itu, Azwar Anas merasa yakin dengan tidak akan adanya sanksi bagi parodi lawak yang dilakukan para pemain indonesia di lapangan berkenaan dengan pertandingan gajah yang mencoret citra semangat sepakbola dunia. Dengan enteng pejabat era orde-baru tersebut melontarkan pernyataan “Tak ada aturan yang melarang sebuah tim sepakbola untuk kalah. Saya yakin tak akan ada teguran baik dari AFF maupun AFC karena hal ini,” ujarnya kala itu.
Namun ucapan orang nomor satu di PSSI kala itu ternyata salah besar, ucapan tersebut hanya menjadi sebuah kekonyolan yang tak kalah konyolnya dengan pertandingannya, nyatanya indonesia harus membayar denda sebesar 40 ribu dollar AS, memang itu sebuah sanksi yang tidak begitu berat tapi pertandingan sepakbola bak gajah tersebut mencerminkan buramnya potret per-sepakbolaan di tanah air hingga menjatuhkan harga diri bangsa.
Sampailah pada babak semifinal. seakan dihinggapi oleh sebuah karma, ternyata Indonesia dan Thailand sama-sama kalah pada pertandingan semifinal, indonesia yang diprediksikan akan menang mudah menghadapi timnas singapura ternyata harus mengakui kehebatan lawannya.
Akhirnya pertandingan final piala tiger 1998 pun mempertemukan vietnam dan singapura untuk saling berhadapan, ajaibnya saat itu singapura lah yang menjadi juara turnamen 2 tahunan tersebut. Indonesia harus puas menjadi juara ketiga seteleh pada pertandingan perebutan juara ketiga~indonesia menang adu penalti melawan thailand setelah 120 menit sebelumnya kedua tim bermain imbang 3-3.
Sebagai bangsa Indonesia kita pasti merasa malu, pertandingan tersebut merupakan pertandingan yang sangat memalukan dan memilukan bagi per-sepakbolaan tanah air, apalagi pertandingan itu terjadi pada event internasional yang tentunya bisa disaksikan oleh penduduk dari belahan dunia manapun. Indonesia menjadi terkenal kala itu, majalah olahraga terkemuka di amerika, “sport illustrated” kala itu menulis berkali-kali apa yang terjadi pada pertandingan paling menggelikan yang membuat manusia di planet bumi ini terguling-guling habis-habisan. Bahkan majalah tersebut rela mengorbankan kolom berita utamanya untuk menjadikan pertandingan tersebut sebagai bahan lelucon publik pecinta sepakbla dunia khususnya amerika sebagai sajian utamanya.
Setelah kejadian memalukan tersebut, Azwar Anas langsung mengundurkan diri sebagai ketua umum PSSI, posisinya digantikan oleh agum gumelar. Dan, sang pencetak gol bunuh diri Mursyid Effendy mendapatkan hukuman telak yaitu tidak boleh aktif dalam dunia per-sepakbolaan di kancah internasional seumur hidup.
Semua bertanya, siapa sebenarnya dalang dari semua tragedi ini? Sampai saat ini masih belum diketahui mengapa para pemain mengikuti sebuah instruksi yang konyol itu, yang berujung kekecewaan yang mendalam bagi rakyat Indonesia sehingga dampaknya memalukan dan melukai hati bangsa Indonesia.
Inikah mentalitas bangsa Indonesia hingga sekarang?